Rabu, 11 Maret 2015

Negasi

Saya tak pernah membayangkan bahwa saya sudah hampir menjadi mahasiswa semester akhir; dan itu berarti sebentar lagi saya lulus! Entahlah, sepertinya baru kemarin saya duduk di pinggir pintu mobil, berharap tangan saya cukup panjang untuk bisa meraih pegangan di bagian atas pintu tanpa harus repot meregangkan tangan ke atas terus menerus. Sepertinya baru kemarin saya, masih dengan rok merah selutut, duduk di atas bendi dan berpikir; sepertinya menjadi anak SMA sangat seru. (Dan bahkan saat saya mulai ber-SMA itu hampir 6 tahun yang lalu!)

Time goes fast, unexpectedly.

Sekarang malah ketika saya melewati sebuah SMP negeri dan melihat para siswanya yang mengerumuni jajanan di pinggir jalan, ingin sekali saya untuk kembali lagi. Well, mungkin bukan untuk kembali belajar rumus-rumus fisika [menyebalkan] itu, tapi to feel young again. To feel that you still have many years ahead until you're called as an adult. (Dan sekarang jarak ke angka duapuluh itu hanya 1 bulan!)

Mungkin sudah saatnya Mesin Waktu benar-benar ditemukan; bukan untuk maju, tetapi untuk sesekali menegasikan waktu. Dan karena itu adalah sebuah Mesin Waktu, tentu saja kita bisa kembali pulang ke detik sekarang dan berpura-pura tak terjadi apa-apa.

[Yah... tapi tentu kau sudah tahu, kan, bahwa yang namanya 'sekarang' itu tak ada?]