Jumat, 24 April 2015

Catatan Menuju Duapuluh; Bagian 7 (END)

Jumat, 24 April 2015
(1 hari sebelum 20)

Today is a special day with a special night!

It’s nice having a special day with your most special one(s);

Sharing laugh,

story,

support,

worry,

and even silence,

At that time, you suddenly realise that you still have those people whom you love dearly and love you back.

And there is One who makes all those things possible to you. He loves you the most, and there is nothing more important than that.




Alhamdulillah... Selamat Duapuluh, ya, Din :)

Kamis, 23 April 2015

Catatan Menuju Duapuluh; Bagian 6

Kamis, 23 April 2015

(2 hari menuju 20)

Hari ini lebih positif, deh

Seperti biasa; pagi-pagi dateng telat ke kelas Tepeng (Teori Pengajaran Bahasa Inggris) tapi tetep dapet presensi haha *I’m such a professional, right?* UTS-nya belum dibagiin, tapi tadi dikasih tahu nilai terendah dan tertinggi. I didn’t hope for the best, but please, don’t make it the least *crossing fingers*. Presentasi, bla bla... dan akhirnya selesai.

Nunggu kelas Reading seperti biasa, dan bapaknya masuk 1 jam sebelum kelas bubar *tumben, biasanya 10 menit sebelum bubar LOL*. Tiba-tiba aja bapaknya ngasih kertas dan bilang kita kuis. Fine, sekelas sih pasrah-pasrah aja. Belajar ga belajar ga ngaruh juga... secara kita kerjanya cuma baca long selections and nothing more. I mean; ga ada teori atau apapun itu yang bener-bener kita pelajarin semester ini, so the test must be something we need to think using only our own knowledge.

Anyway, bacaan di soal nya tentang misunderstanding about love. We don’t feel love, but we do love. It’s all about commitment to be responsible to our significant other. That’s love. Then the question is; does true love really exist? Bapaknya nanya ke kita yang cewek: kalian lebih pilih mana; someone whom you don’t love but is responsible, or someone whom you love but is not responsible.

That’s tough, really. *haha* Saya memilih opsi pertama. Kalau soal memilih antara cinta atau orang yang baik, yang bertanggungjawab, jelas saya memilih yang kedua. Tapi kalau pertanyaannya masih pertanyaan klasik—cinta atau uang?—yang selalu jadi kontroversi antara saya dan teman-teman di kosan, saya masih akan memilih cinta. Maksudnya, ini ga mungkin juga kan walaupun saya memilih cinta dan orang saya cintai itu bener-bener penniless? Konteksnya di sini maksudnya yang ‘agak kekurangan’, kan? Yap, saya tetap memilih opsi pertama. Uang bisa dicari, dan lagian ga usah khawatir tentang uang karena rezeki milik kita udah ditentuin dari awal dan ga bakal pindah ke orang lain. Selama kita masih hidup, itu artinya kita masih akan diberikan rezeki oleh Allah. Sedikit atau banyak, itu hanya soal kita mensyukuri atau tidak. Dengan mensyukuri apa yang kita miliki, kita akan selalu merasa cukup, kan? Kita bersyukur karena kita masih diberikan dalam jumlah seperti itu, tidak dikurangi sama sekali. Akan selalu ada kalimat ‘ini lebih baik, bukan, daripada...’. Bayangkan aja kalau kita terbiasa bersyukur untuk hal-hal kecil, bagaimana senangnya kita ketika mensyukuri atas hal-hal yang besar? J

Oh ya, tadi siang saya dan dua teman saya ikut seminar softskills di Balai Sidang *ah that memorable place!*. Seminarnya lumayan berguna, jadi tahu kalau kita harus bisa mengontrol alam bawah sadar (subconscious mind) untuk bisa lebih maksimal dalam menggunakan potensi diri kita. Selain itu, kita juga harus bisa menyelaraskan pikiran, perasaan, dan perbuatan agar hidup lebih positif. I don’t know how, but let’s just try it anyway. Dan ngomong-ngomong saya baru tahu ketika kita mengatupkan kedua tangan, ibu jari yang terletak di paling atas bukan menunjukkan bagian otak dominan kita, melainkan ibu jari yang terletak di bawah. Kalau begitu, saya lebih dominan otak kanan padahal selama ini saya selalu yakin bahwa saya tipe left-brain dominant. Entahlah, mungkin itu berarti saya lumayan seimbang antara otak kiri-kanan *semoga begitu ya haha*. Beberapa ciri otak kanan emang ada di saya sih, misalnya lebih fokus ke nada daripada ke lirik ketika mendengar lagu. Yap, saya juga sadar saya tidak terlalu terorganisir walaupun saya suka selalu membuat rencana di awal *yang pada akhirnya sedikit banyak tidak berjalan lancar hehe*.  Anyway, it’s always interesting to know ourselves better, right?

(Oh ya, ada juga teori menarik tentang extrovert-introvert, tapi sepertinya tidak akan saya ceritakan sekarang hehe)

Besok harus bangun pagi, soalnya. Harus menjemput tamu yang sudah ditunggu-tunggu haha.


Keep positive! Be optimistic about your life! And you’ll see great things coming to your life. 

Rabu, 22 April 2015

Catatan Menuju Duapuluh; Bagian 5

Rabu, 22 April 2015

(3 menuju 20)

Hari ini lelah haha. I’ve come to realise more that I’m the type of person who can’t be easily understood by others. I’m just too complicated, with even more complicated mind. The problem is, sometimes I couldn’t say properly what I’m going to say (I tend to say something straightforwardly with high incomprehensibility lol). The more I try to explain, the more I hate that person because she or he just cannot understand what I say.

I wish there will be a cure for this.

Anyway, hari ini saya jadi menentukan pilihan bahwa saya akan fokus untuk mencari pendidikan S2 yang berhubungan dengan target field saya nanti, yaitu penerjemahan. Sepertinya mulai sekarang saya akan mulai mencari-cari info tentang school of translation mana yang terbaik. Semoga saja keputusan ini tidak akan berubah-ubah lagi, ya. Walaupun kalau memang harus berubah juga tak apa-apa.

Besok, hanya ada 1 hari lagi sebelum Papa dan Lia datang! Dan kabar baiknya, saya bisa menjemput mereka setelah diberi tahu kalau hari Jumat besok saya tidak bisa mengajar (lagi) karena anak-anaknya harus ikut Perjusa. Fine. Silver linings, at least.

Wah, gila, sih. Kurang dari tiga hari lagi untuk menikmati sembilan belas. Maka, izinkan saya untuk menuliskan angka itu sepuasnya. Di dalam hati.
Fine. Mungkin tak apa jika dituliskan di sini juga.
19. 19. 19. 19. 19. SEMBILAN BELAS! SEMBILAN BELAS! SEMBILAN BELAS! SAYA SEMBILAN BELAS TAHUN!

LOL. Okay. Now I’m ready. I should be.

Selasa, 21 April 2015

Catatan Menuju Duapuluh; Bagian 4

Selasa, 21 April 2015

(4 hari sebelum 20)

Semakin dekat, semakin saya berpikir bahwa waktu memang harus terus berjalan....

Saya selalu membayangkan—bahkan sejak satu dua tahun yang lalu—bagaimana rasanya menjadi seseorang berumur duapuluh? Saya tak ingin! Saya ingin terus berumur belasan!

Tapi hari ini saya sadar, memang itulah harga yang harus dibayar jika saya ingin hal-hal menakjubkan terjadi; ada perubahan di sini dan di sana—yang menyenangkan atau pun tidak. Itulah harga yang harus dibayar; jika saya ingin tetap hidup. Dan bertemu—atau akan bertemu—dengan orang-orang yang akan memiliki bagian di hidup saya.

Hari ini tak banyak yang terjadi, sebenarnya. Terlalu biasa.

Kecuali sebuah kesadaran yang menyusup ke dalam pikiran saya: wow, you’ve really changed, Din!
Saya tahu; saya berubah. Entah itu baik atau tidak, saya benar-benar sedang berubah. Dan saya tak bisa menghentikannya.

Sepertinya, menjadi dewasa itu adalah menjadi lebih siap menghadapi perubahan.

Bukankah begitu?

The time is tricking us; all the time (see? Even I’ve just mentioned ‘it’! gosh). Kadang kita ingin waktu berjalan cepat, tapi di lain waktu kita justru berharap agar ada alat untuk bisa memperlambat waktu. Yang konstan hanya satu; waktu itu sendiri. Ia tak maju, tak mundur, tak mempercepat, tak memperlambat. Bahkan, mungkin saja ia tak ada. Hanya kita saja yang suka mengada-ngada. Menciptakan waktu, memberi nama dan tanda, berusaha mengontrolnya, lalu frustrasi karena tiba-tiba ia berbalik melawan keinginan kita.

Bukankah aneh, manusia itu...

Ah ya. Barusan terlintas: jika waktu sebenarnya tidak riil, bukankah berarti usia juga begitu? Dari mana dan bagaimana caranya saya bisa disebut DUA PULUH TAHUN (sebentar lagi)? Kata siapa yang dengan seenaknya memberi tanda di kehidupan saya sendiri? Saya tak butuh angka!
Saya tahu saya berubah setiap hari; berubah menjadi sesuatu yang lain. Tapi tak perlu ada yang memberi tahu “kau sudah tua! Berkepala dua!”. Tidak. Kata siapa? Saya tak butuh angka untuk bisa terus hidup, ya kan?

Ah, kapan-kapan saya harus membaca banyak buku mengenai hal ini. Dulu saya pernah membeli A Brief History of Time, tapi buku itu sudah lapuk dimakan air hujan bahkan sebelum saya menyelesaikan setengahnya. Atau mungkin ada buku lain yang lebih layak yang bisa menolong saya? Saya takut jadi gila.

Mungkin sebentar lagi mereka akan mulai menamai apa yang sedang saya alami ini.
Atau mungkin sudah ada namanya?
Aging anxiety syndrome sepertinya lumayan bagus didengar.

Tapi tidak. Kan sudah saya bilang saya tidak khawatir bertambah umur. Lagipula siapa yang butuh angka?



P.S: Oke, saya rasa ini gara-gara saya barusan menonton film tentang time travelling, jadi agak sentimental. Tenang saja, saya masih waras, kok. Semoga saja begitu. 

Minggu, 19 April 2015

Catatan Menuju Duapuluh; Bagian 2

Minggu, 19 April 2015

(6 hari menuju 20)

Pagi tadi, untuk pertama kalinya, saya kembali bangun pagi di hari Minggu dan memutuskan untuk jogging di lingkungan UI. Sepertinya hal ini saya sebut sebagai breakthrough, karena terhitung sejak semester 5 (atau hampir satu tahun yang lalu) saya tidak pernah lagi lari pagi. Setiap kali saya berniat untuk pergi, pasti selalu kemungkinannya ada tiga; 1) saya terlambat bangun, 2) partner jalan pagi saya tiba-tiba membatalkan niat, dan 3) saya terlambat bangun dan partner jalan pagi saya tiba-tiba membatalkan niat yang membuat saya tergoda untuk membatalkannya juga.

Well, jadilah Minggu pagi tadi adalah hari yang bersejarah, walaupun sebenarnya saya dan dua teman saya mengarahkan rute jalan pagi kami ke arah rumah makan Gorontalo favorit kami (sebenarnya bukan favorit, tapi karena hanya itu satu-satunya rumah makan Gorontalo yang bisa kami kunjungi di sekitar Depok, jadilah itu the ultimate choice hihi). Awalnya saya agak pesimis karena jalan Juanda tempat rumah makan itu berada telah diubah menjadi jalan tol, dan banyak bangunan di sisi kiri-kanan jalan sudah digusur. Jangan-jangan rumah makan itu juga! Walaupun agak pesimis, tapi kaki kami yang terus melangkah cukup menjadi bukti kalau sebenarnya hati kami belum menyerah J
Saat menemukan bahwa rumah makan itu masih berdiri di sana, saya sangat senang! Akhirnya saya bisa makan nasi kuning dan milu siram lagi. Nasi kuning kami sangat khas, dan tak ada satu pun penjual nasi kuning di Depok yang bisa membuat nyaris mirip dengan nasi kuning kami. Dan milu siramnya, tentu tak ada duanya!

Pelajaran keenam; untuk sesuatu yang sangat kita inginkan, akan selalu ada setitik harapan yang muncul di sudut hati tak terlihat. Itu bisa saja menjadi satu-satunya harapan kita untuk bertahan. Jangan lepaskan!

Ketika selesai, kami memutuskan untuk pulang menggunakan taksi. Setelah bersusah payah memanggil banyak taksi, akhirnya kami bisa naik di sebuah taksi berwarna kuning. Kesan pertama terhadap sopirnya: wah, bapak ini ramah sekali! Tapi kemudian dia terus-terusan bicara, mengatakan hal ini dan itu tentang doa begini dan begitu. Ia ‘mengajarkan’ kami doa-doa yang bisa membuat kami sukses dan kaya (hm?). Beruntunglah karena saya duduk di kursi belakang, jadi ada sedikit kelonggaran untuk tidak terlalu mendengarkan perkataan bapak itu. Paling hanya sekali dua kali menanggapi dengan ‘hmm’ dan ‘ooh’ tanpa benar-benar memasukkan ucapannya ke pikiran. Dia menyebutkan berbagai hal; dimulai dari ‘tanah kuburan’, ‘mematikan bisnis orang’, ‘ilmu untuk mengontrol orang lain’, dan seterusnya. Puncaknya saat bapak itu mengaku kalau ia berguru dari seorang nabi, nabi yang tidak pernah mati. Dan dia menyebutnya nama nabi yang bukan termasuk dalam dua puluh lima apalagi nabi Muhammad. Ya sudahlah, rupanya perkataan bapak ini benar-benar tak perlu diserap baik-baik.

Kami pun turun di depan halte teknik dengan perasaan lega.

Pelajaran ketujuh; hal-hal yang hanya bisa kau dengar dan lihat di televisi bisa saja ada di sekitarmu. Selalu hati-hati saja.

Sesampainya di kosan, saya memutuskan untuk membereskan kamar saya yang... entahlah. Pokoknya saya ingin beres-beres saja, terutama karena dalam beberapa hari ke depan akan ada tamu spesial yang datang. Yah, bisa dibilang saya harus punya motivasi besar seperti itu dulu baru akan membersihkan kamar saya secara keseluruhan. Biasanya yang saya lakukan hanya rutinitas biasa; atur barang-barang, cuci piring, sapu, dan ngepel (yang belakangan disebut ini sebenarnya agak jarang).

Pelajaran kedelapan; when you want to do something while keeping someone or something you love in your mind, you’ll most likely gain extra strength to do it haha. And since you do it with a sincere, you would be at ease finishing all the tasks you have to do.

Setelah membereskan kamar, saya langsung mandi (dengan niat dalam hati untuk mandi sebersih-bersihnya! I mean... those dust...). Setelah itu saya sholat, lalu memanaskan milu siram yang tadi saya beli, dan menikmatinya sambil menonton The Big Bang Theory yang sebentar lagi akan khatam season 7. Saya lalu memutuskan untuk tidur siang karena cuaca yang benar-benar sangat mendukung hehe.

Saat bangun, saya langsung tahu bahwa di luar sedang hujan. Yang sangat deras. Setelah bosan mencoba untuk kembali tidur terus menerus, saya lalu bangun lalu membuka file word tugas jurnal yang—ternyata—masih belum selesai (yah, apa boleh buat). Saya berusaha mengetikkan beberapa kata untuk memenuhi target 3 halaman, namun tak banyak yang bisa saya tulis. Saya lalu kembali menonton film.

Menghampiri isya, saya dan yang lainnya memutuskan untuk patungan dan membeli martabak telur. 

Harganya naik, dari delapan belas menjadi dua puluh dua. Setelah itu kami berkumpul di salah satu kamar; mengobrol sambil menunggu film selesai dikopi dari harddisk ke laptop dan sebaliknya.

Sesudah itu, saya akhirnya kembali ke kamar, mencoba lebih keras untuk melanjutkan jurnal. Melanjutkan; penyelesaiannya besok saja saat paket internetnya bisa dipakai (B*** huh! Besok saya sudah berniat untuk ganti modem. Titik.)


Saya jadi ragu, kan, bagaimana caranya mengepos tulisan ini diblog tanpa internet. Semoga saja ada caranya. 

Sabtu, 18 April 2015

Catatan Menuju Duapuluh; Bagian 1

Sabtu, 18 April 2015

(7 hari sebelum 20)

Pagi tadi, setelah subuh saya tidur lagi (sebuah rutinitas yang sebenarnya belakangan ini sudah agak jarang). Malam sebelumnya saya telah berencana untuk pergi ke perpustakaan sebelum siang untuk menyelesaikan tugas membuat jurnal yang diberikan salah satu dosen saya di semester ini. Maunya, hari ini saya selesai mengerjakan jurnal itu sehingga saya bisa fokus untuk membaca A Raisin’ in the Sun di hari Minggu.

Saat saya bangun sekitar pukul 8.30, saya lalu mengecek ponsel dan membaca sekilas pesan-pesan yang masuk melalui Whatsapp. Saat sedang berada di salah satu grup, saya tiba-tiba melongo saat seseorang berkata bahwa dia memiliki tiket masuk sebuah acara yang diadakan hari ini juga di Gedung IX FIB UI namun dia tidak bisa datang.

“Yang mau tiketnya japri aja ya.”

Demi apapun juga; saya ingin datang ke acara itu! Yang mengadakan adalah sebuah lembaga beasiswa untuk mereka yang ingin melanjutkan studi di luar negeri (are you kidding me? Of course I would very much want to attend!). 2 hari yang lalu, saya baru tahu kalau setiap orang yang ingin datang harus memesan tiket terlebih dahulu. Saat saya mengecek websitenya, ternyata tiketnya sudah habis. Secepat kilat, saya mengetik pesan untuk orang yang tadi menawarkan tiket miliknya. Dan... yeah! Akhirnya tiket itu dikirimkan ke email saya, dan saya bisa menghadiri acara itu!

Pelajaran pertama hari ini; tadinya saya sudah berencana untuk tidak bangun lebih awal karena saya tidak harus datang ke acara itu. Acara itu dimulai jam 9, dan saya sudah menyetel alarm di jam 9.30. Jangan kaget ya, maksud saya menyetel jam segitu karena saya tidak ingin bangun lebih telat dari jam 9.30. Jadi itu semacam ‘waktu maksimal’ untuk bangun hehe.

Namun, pagi ini ternyata saya bangun ‘lumayan’ lebih cepat; sekitar jam 8.30. Setidaknya lebih cepat untuk bisa meminta tiket itu ke orang yang menawarkan tadi dan ternyata tiketnya belum diberikan ke siapa-siapa! Itu semacam keberuntungan pertama yang saya dapatkan di pagi hari J

Akhirnya saya langsung menyiapkan sarapan sambil menyalakan laptop. Saya harus mencari informasi terlebih dahulu mengenai kampus-kampus yang akan mengadakan stand di acara tersebut. Jangan salah paham lagi; saya sebenarnya sudah sering mencari informasi tentang jurusan yang ingin saya masuki untuk S2 nanti, namun saya belum pernah mencoba menjelajahi website kampus-kampus yang akan hadir nanti.

Saat sampai di gedung XI, saya tiba-tiba bersemangat saat melihat stand penjualan buku-buku lama yang biasanya berjualan di FIB saat sedang ada festival atau acara-acara jurusan. Kebetulan sekali! Saya sedang menanti kehadiran si bapak ini di FIB karena saya sedang sangat membutuhkan buku The Little Prince terjemahan Indonesia. Semester ini jarang ada acara jurusan, jadi para penjual buku-buku lama sudah jarang terlihat juga. Saya langsung menanyakan apakah dia memiliki buku itu, namun ternyata jawabannya masih sama, “wah ngga ada, mbak. Buku itu udah susah sih, soalnya buku lama.” Yeah, saya sudah bisa menebak, sih, sebelumnya. Sudah seminggu (atau dua?) saya berusaha mencari kesana kemari buku itu, namun tidak dapat juga. Bahkan versi Inggris sekalipun. Sebenarnya perpustakaan memiliki versi Indonesia-nya, namun sekarang sedang dipinjam orang lain dan saya tidak bisa memastikan kapan buku itu akan dikembalikan.

Pelajaran kedua, ada hal-hal yang sebenarnya sudah berada di depan mata kita, namun karena beberapa hal, kita tidak bisa begitu saja memiliki hal itu. Jika memang diperlukan, kita memang harus berusaha lebih untuk bisa mendapatkannya.

Jadilah saya langsung menuju ke ruang auditorium, dan ternyata di meja yang terletak di depan pintu masuknya terdapat sebuah kertas bertuliskan “Registration Closed”. Wah, rupanya acaranya sudah dimulai. Saya langsung berjalan ke arah pintu masuk di dalamnya, namun ragu-ragu untuk masuk. Saya lalu mencoba bertanya ke beberapa orang berbaju batik yang berdiri tak jauh dari saya—mereka sepertinya sedang berfoto, namun saya sudah terlanjur mendekat.

“Maaf, mau tanya. Masih bisa masuk ga ya?” tanya saya sambil menunjuk ke arah pintu masuk.

Salah satu dari mereka yang berdiri paling dekat dengan saya menoleh, lalu langsung berujar, “Oh, boleh... boleh.”

Salah satu lainnya langsung menawarkan diri untuk mengantar saya ke dalam. Dia membukakan pintu, lalu berjalan di depan saya dan mencarikan kursi kosong. Wow, sebenarnya saya agak kaget, karena saya datang sangat terlambat (dan tiket yang sudah saya print sebelum datang kesini pun tidak ditanyakan sama sekali!).  

Akhirnya saya duduk di kursi yang ditunjukkan oleh orang tadi setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih (I really meant that, anyway). Ternyata di atas panggung sedang ada teater, namun sepertinya sekarang sesi istirahat karena sebuah band akan menyanyikan beberapa lagu.

Setelah teater itu selesai, para peserta (or should I say pengunjung?) berkumpul di hall auditorium untuk berkonsultasi mengenai beasiswa yang ditawarkan oleh yang punya acara. Saya langsung menuju ke salah satu meja dan ikut menanyakan beberapa hal. Minta brosur, minta file universitas-universitas tujuan beasiswa itu, mengambil sebuah permen jeli, lalu mengucapkan terima kasih sambil tersenyum (again, I really meant that! Thanks!).

Saya lalu berjalan ke arah stand-stand universitas, namun rupanya hampir semua stand masih dikunjungi orang lain. Saya lalu berjalan mengitari ruangan, dan sampailah saya ke meja panjang berisi berbagai macam makanan yang awalnya saya kira dijual. Ternyata gratis! Mereka yang berdiri di balik meja itu berkata pada saya, “ambil aja mbak. Yang banyak.” Saya hanya mengangguk kecil sambil terus mengamati aneka jajanan itu, namun sebenarnya dalam hati saya sedang berteriak-teriak senang. Really? Free snack? Siapa yang mau melewatkan kesempatan emas ini? Haha!

Saya lalu mengambil satu persatu jajanan itu (setiap saya mengambil empat atau lima, saya masukkan ke dalam tas. Lalu lanjut mengambil lagi LOL). Wow, saya langsung senang mengetahui bahwa makanan-makanan itu berasal dari berbagai daerah di Indonesia (dan gratis!). Sebelum pergi, saya kembali mengucapkan terima kasih kepada kedua mbak-mbak penjaga meja itu (I really really did mean it! Haha).

Dengan tas yang hampir penuh (LOL), saya langsung berjalan menuju ke salah satu stand universitas yang kosong. Saya duduk lalu mulai menanyakan tentang course penerjemahan yang saya ingin masuki untuk pendidikan magister nanti (aamiin...). Mbak penjaga stand itu sangat ramah, dan dengan sabar menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. Dia lalu meminta data saya, sambil memberika sebuah tote bag berwarna oranye. Wow! Free gift? Again? I must be blessed today! Haha. Isinya, yang awalnya saya kira notebook, adalah sebuah pulpen, brosur, dan buku tebal berisi profil-profil universitas dari berbagai negara. That is literally what I need! Saya lalu tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Mbak-mbak itu sangat ramah, I swear!

Pelajaran ketiga; you could gain strength from almost anyone, even a stranger. Just try to be kind to every one whom you meet. Trust me, it will make you and other people feel better!

Saya lalu berjalan menuju perpustakaan sambil menyadari bahwa saya lapar. Oke, saya akan beli sesuatu di perpustakaan nanti. Dan akhirnya, setelah beberapa pertimbangan yang singkat namun matang (hehe), saya memilih untuk pergi ke restoran korea dan membeli kimbab.

Setelah selesai, saya langsung menuju ke lantai 2 dan 3 untuk mencari buku referensi untuk jurnal saya sambil sesekali menyelipkan urusan skrispsi di dalamnya. Saya pulang dari perpustakaan saat lagu-lagu daerah sudah diputar sejak 15 menit yang lalu (lagu-lagu daerah itu menandakan bahwa perpustakaan akan segera tutup). Saya lalu berjalan ke arah MUI dan berencana untuk naik ojek saja (tadinya saya berniat untuk naik bikun saja, tapi saya lupa hari ini hari Sabtu dan bikun sudah berhenti beroperasi sejak 2 jam yang lalu). Sebenarnya agak berat naik ojek saat pulang ke kosan, karena ongkos yang diminta pasti sepuluh ribu (padahal tujuh ribu saja cukup!). Saya lalu berencana untuk mencoba menawar ojek hingga 8 ribu saja ketika sampai di kosan.

Ojek yang saya naiki ternyata adalah ojek yang juga mangkal di dekat kosan saya (tadinya saya kira ada 2 bapak ojek yang mukanya mirip, namun ternyata mereka orang yang sama!). Terlebih, bapak itu yang tadi pagi mengantar saya juga ke FIB. Wow, strange coincidence. Saat sampai di depan gerbang kosan, saya menyerahkan uang sepuluh ribu ke arah bapak itu. Saya menunggu namun tidak mengatakan apapun, dan ternyata bapak itu mengeluarkan uangnya dan mengulurkan uang kembalian dua ribu rupiah! Saya sebenarnya agak kaget, karena selama ini belum pernah ada ojek yang mau diberikan kurang dari sepuluh ribu jika mengantarkan saya dari kampus hingga ke depan gerbang kosan.

Pelajaran keempat; di antara sekian banyak orang yang kau anggap sudah tidak baik lagi, pasti akan ada setidaknya satu yang menjadi pengecualian. Really, a kind man does still exist!

Saya lalu menghabiskan sisa hari saya dengan menonton drama dan film. Beberapa hari terakhir saya sering menonton drama jepang tentang kuliner yang membuat saya ingin menjalankan sebuah restoran Itali suatu hari nanti hehe. Film yang saya tonton setelahnya adalah film lama, sebenarnya, karena saya pertama kali menontonnya saat masih di SMA. Judulnya Crazy Little Thing Called Love. Tujuan saya menonton ini sebenarnya untuk membiasakan diri dengan bahasa Thailand, namun sepertinya ide untuk bernostalgia lumayan bagus juga. Jadilah saya tertawa di banyak adegan dan menangis di adegan yang sama banyaknya. Such a classic movie, at least for me! (ps: ternyata Mario Maurer di situ memang benar-benar ganteng! But he’s not actually my type lol).

Pelajaran kelima (yang saya ambil dari film itu) sepertinya harus berasal dari perkataan Nam di awal film, “siapapun kita, pasti punya seseorang yang kita suka secara diam-diam. Saat kita ingat orang itu kita merasa seperti sesak di dada, tetapi kita terus menyukainya.”


Mungkin hal-hal yang seperti itu memang ada, ya.