Selasa, 21 April 2015

Catatan Menuju Duapuluh; Bagian 4

Selasa, 21 April 2015

(4 hari sebelum 20)

Semakin dekat, semakin saya berpikir bahwa waktu memang harus terus berjalan....

Saya selalu membayangkan—bahkan sejak satu dua tahun yang lalu—bagaimana rasanya menjadi seseorang berumur duapuluh? Saya tak ingin! Saya ingin terus berumur belasan!

Tapi hari ini saya sadar, memang itulah harga yang harus dibayar jika saya ingin hal-hal menakjubkan terjadi; ada perubahan di sini dan di sana—yang menyenangkan atau pun tidak. Itulah harga yang harus dibayar; jika saya ingin tetap hidup. Dan bertemu—atau akan bertemu—dengan orang-orang yang akan memiliki bagian di hidup saya.

Hari ini tak banyak yang terjadi, sebenarnya. Terlalu biasa.

Kecuali sebuah kesadaran yang menyusup ke dalam pikiran saya: wow, you’ve really changed, Din!
Saya tahu; saya berubah. Entah itu baik atau tidak, saya benar-benar sedang berubah. Dan saya tak bisa menghentikannya.

Sepertinya, menjadi dewasa itu adalah menjadi lebih siap menghadapi perubahan.

Bukankah begitu?

The time is tricking us; all the time (see? Even I’ve just mentioned ‘it’! gosh). Kadang kita ingin waktu berjalan cepat, tapi di lain waktu kita justru berharap agar ada alat untuk bisa memperlambat waktu. Yang konstan hanya satu; waktu itu sendiri. Ia tak maju, tak mundur, tak mempercepat, tak memperlambat. Bahkan, mungkin saja ia tak ada. Hanya kita saja yang suka mengada-ngada. Menciptakan waktu, memberi nama dan tanda, berusaha mengontrolnya, lalu frustrasi karena tiba-tiba ia berbalik melawan keinginan kita.

Bukankah aneh, manusia itu...

Ah ya. Barusan terlintas: jika waktu sebenarnya tidak riil, bukankah berarti usia juga begitu? Dari mana dan bagaimana caranya saya bisa disebut DUA PULUH TAHUN (sebentar lagi)? Kata siapa yang dengan seenaknya memberi tanda di kehidupan saya sendiri? Saya tak butuh angka!
Saya tahu saya berubah setiap hari; berubah menjadi sesuatu yang lain. Tapi tak perlu ada yang memberi tahu “kau sudah tua! Berkepala dua!”. Tidak. Kata siapa? Saya tak butuh angka untuk bisa terus hidup, ya kan?

Ah, kapan-kapan saya harus membaca banyak buku mengenai hal ini. Dulu saya pernah membeli A Brief History of Time, tapi buku itu sudah lapuk dimakan air hujan bahkan sebelum saya menyelesaikan setengahnya. Atau mungkin ada buku lain yang lebih layak yang bisa menolong saya? Saya takut jadi gila.

Mungkin sebentar lagi mereka akan mulai menamai apa yang sedang saya alami ini.
Atau mungkin sudah ada namanya?
Aging anxiety syndrome sepertinya lumayan bagus didengar.

Tapi tidak. Kan sudah saya bilang saya tidak khawatir bertambah umur. Lagipula siapa yang butuh angka?



P.S: Oke, saya rasa ini gara-gara saya barusan menonton film tentang time travelling, jadi agak sentimental. Tenang saja, saya masih waras, kok. Semoga saja begitu. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar