Minggu, 19 April 2015

Catatan Menuju Duapuluh; Bagian 2

Minggu, 19 April 2015

(6 hari menuju 20)

Pagi tadi, untuk pertama kalinya, saya kembali bangun pagi di hari Minggu dan memutuskan untuk jogging di lingkungan UI. Sepertinya hal ini saya sebut sebagai breakthrough, karena terhitung sejak semester 5 (atau hampir satu tahun yang lalu) saya tidak pernah lagi lari pagi. Setiap kali saya berniat untuk pergi, pasti selalu kemungkinannya ada tiga; 1) saya terlambat bangun, 2) partner jalan pagi saya tiba-tiba membatalkan niat, dan 3) saya terlambat bangun dan partner jalan pagi saya tiba-tiba membatalkan niat yang membuat saya tergoda untuk membatalkannya juga.

Well, jadilah Minggu pagi tadi adalah hari yang bersejarah, walaupun sebenarnya saya dan dua teman saya mengarahkan rute jalan pagi kami ke arah rumah makan Gorontalo favorit kami (sebenarnya bukan favorit, tapi karena hanya itu satu-satunya rumah makan Gorontalo yang bisa kami kunjungi di sekitar Depok, jadilah itu the ultimate choice hihi). Awalnya saya agak pesimis karena jalan Juanda tempat rumah makan itu berada telah diubah menjadi jalan tol, dan banyak bangunan di sisi kiri-kanan jalan sudah digusur. Jangan-jangan rumah makan itu juga! Walaupun agak pesimis, tapi kaki kami yang terus melangkah cukup menjadi bukti kalau sebenarnya hati kami belum menyerah J
Saat menemukan bahwa rumah makan itu masih berdiri di sana, saya sangat senang! Akhirnya saya bisa makan nasi kuning dan milu siram lagi. Nasi kuning kami sangat khas, dan tak ada satu pun penjual nasi kuning di Depok yang bisa membuat nyaris mirip dengan nasi kuning kami. Dan milu siramnya, tentu tak ada duanya!

Pelajaran keenam; untuk sesuatu yang sangat kita inginkan, akan selalu ada setitik harapan yang muncul di sudut hati tak terlihat. Itu bisa saja menjadi satu-satunya harapan kita untuk bertahan. Jangan lepaskan!

Ketika selesai, kami memutuskan untuk pulang menggunakan taksi. Setelah bersusah payah memanggil banyak taksi, akhirnya kami bisa naik di sebuah taksi berwarna kuning. Kesan pertama terhadap sopirnya: wah, bapak ini ramah sekali! Tapi kemudian dia terus-terusan bicara, mengatakan hal ini dan itu tentang doa begini dan begitu. Ia ‘mengajarkan’ kami doa-doa yang bisa membuat kami sukses dan kaya (hm?). Beruntunglah karena saya duduk di kursi belakang, jadi ada sedikit kelonggaran untuk tidak terlalu mendengarkan perkataan bapak itu. Paling hanya sekali dua kali menanggapi dengan ‘hmm’ dan ‘ooh’ tanpa benar-benar memasukkan ucapannya ke pikiran. Dia menyebutkan berbagai hal; dimulai dari ‘tanah kuburan’, ‘mematikan bisnis orang’, ‘ilmu untuk mengontrol orang lain’, dan seterusnya. Puncaknya saat bapak itu mengaku kalau ia berguru dari seorang nabi, nabi yang tidak pernah mati. Dan dia menyebutnya nama nabi yang bukan termasuk dalam dua puluh lima apalagi nabi Muhammad. Ya sudahlah, rupanya perkataan bapak ini benar-benar tak perlu diserap baik-baik.

Kami pun turun di depan halte teknik dengan perasaan lega.

Pelajaran ketujuh; hal-hal yang hanya bisa kau dengar dan lihat di televisi bisa saja ada di sekitarmu. Selalu hati-hati saja.

Sesampainya di kosan, saya memutuskan untuk membereskan kamar saya yang... entahlah. Pokoknya saya ingin beres-beres saja, terutama karena dalam beberapa hari ke depan akan ada tamu spesial yang datang. Yah, bisa dibilang saya harus punya motivasi besar seperti itu dulu baru akan membersihkan kamar saya secara keseluruhan. Biasanya yang saya lakukan hanya rutinitas biasa; atur barang-barang, cuci piring, sapu, dan ngepel (yang belakangan disebut ini sebenarnya agak jarang).

Pelajaran kedelapan; when you want to do something while keeping someone or something you love in your mind, you’ll most likely gain extra strength to do it haha. And since you do it with a sincere, you would be at ease finishing all the tasks you have to do.

Setelah membereskan kamar, saya langsung mandi (dengan niat dalam hati untuk mandi sebersih-bersihnya! I mean... those dust...). Setelah itu saya sholat, lalu memanaskan milu siram yang tadi saya beli, dan menikmatinya sambil menonton The Big Bang Theory yang sebentar lagi akan khatam season 7. Saya lalu memutuskan untuk tidur siang karena cuaca yang benar-benar sangat mendukung hehe.

Saat bangun, saya langsung tahu bahwa di luar sedang hujan. Yang sangat deras. Setelah bosan mencoba untuk kembali tidur terus menerus, saya lalu bangun lalu membuka file word tugas jurnal yang—ternyata—masih belum selesai (yah, apa boleh buat). Saya berusaha mengetikkan beberapa kata untuk memenuhi target 3 halaman, namun tak banyak yang bisa saya tulis. Saya lalu kembali menonton film.

Menghampiri isya, saya dan yang lainnya memutuskan untuk patungan dan membeli martabak telur. 

Harganya naik, dari delapan belas menjadi dua puluh dua. Setelah itu kami berkumpul di salah satu kamar; mengobrol sambil menunggu film selesai dikopi dari harddisk ke laptop dan sebaliknya.

Sesudah itu, saya akhirnya kembali ke kamar, mencoba lebih keras untuk melanjutkan jurnal. Melanjutkan; penyelesaiannya besok saja saat paket internetnya bisa dipakai (B*** huh! Besok saya sudah berniat untuk ganti modem. Titik.)


Saya jadi ragu, kan, bagaimana caranya mengepos tulisan ini diblog tanpa internet. Semoga saja ada caranya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar