Sabtu, 18 April 2015

Catatan Menuju Duapuluh; Bagian 1

Sabtu, 18 April 2015

(7 hari sebelum 20)

Pagi tadi, setelah subuh saya tidur lagi (sebuah rutinitas yang sebenarnya belakangan ini sudah agak jarang). Malam sebelumnya saya telah berencana untuk pergi ke perpustakaan sebelum siang untuk menyelesaikan tugas membuat jurnal yang diberikan salah satu dosen saya di semester ini. Maunya, hari ini saya selesai mengerjakan jurnal itu sehingga saya bisa fokus untuk membaca A Raisin’ in the Sun di hari Minggu.

Saat saya bangun sekitar pukul 8.30, saya lalu mengecek ponsel dan membaca sekilas pesan-pesan yang masuk melalui Whatsapp. Saat sedang berada di salah satu grup, saya tiba-tiba melongo saat seseorang berkata bahwa dia memiliki tiket masuk sebuah acara yang diadakan hari ini juga di Gedung IX FIB UI namun dia tidak bisa datang.

“Yang mau tiketnya japri aja ya.”

Demi apapun juga; saya ingin datang ke acara itu! Yang mengadakan adalah sebuah lembaga beasiswa untuk mereka yang ingin melanjutkan studi di luar negeri (are you kidding me? Of course I would very much want to attend!). 2 hari yang lalu, saya baru tahu kalau setiap orang yang ingin datang harus memesan tiket terlebih dahulu. Saat saya mengecek websitenya, ternyata tiketnya sudah habis. Secepat kilat, saya mengetik pesan untuk orang yang tadi menawarkan tiket miliknya. Dan... yeah! Akhirnya tiket itu dikirimkan ke email saya, dan saya bisa menghadiri acara itu!

Pelajaran pertama hari ini; tadinya saya sudah berencana untuk tidak bangun lebih awal karena saya tidak harus datang ke acara itu. Acara itu dimulai jam 9, dan saya sudah menyetel alarm di jam 9.30. Jangan kaget ya, maksud saya menyetel jam segitu karena saya tidak ingin bangun lebih telat dari jam 9.30. Jadi itu semacam ‘waktu maksimal’ untuk bangun hehe.

Namun, pagi ini ternyata saya bangun ‘lumayan’ lebih cepat; sekitar jam 8.30. Setidaknya lebih cepat untuk bisa meminta tiket itu ke orang yang menawarkan tadi dan ternyata tiketnya belum diberikan ke siapa-siapa! Itu semacam keberuntungan pertama yang saya dapatkan di pagi hari J

Akhirnya saya langsung menyiapkan sarapan sambil menyalakan laptop. Saya harus mencari informasi terlebih dahulu mengenai kampus-kampus yang akan mengadakan stand di acara tersebut. Jangan salah paham lagi; saya sebenarnya sudah sering mencari informasi tentang jurusan yang ingin saya masuki untuk S2 nanti, namun saya belum pernah mencoba menjelajahi website kampus-kampus yang akan hadir nanti.

Saat sampai di gedung XI, saya tiba-tiba bersemangat saat melihat stand penjualan buku-buku lama yang biasanya berjualan di FIB saat sedang ada festival atau acara-acara jurusan. Kebetulan sekali! Saya sedang menanti kehadiran si bapak ini di FIB karena saya sedang sangat membutuhkan buku The Little Prince terjemahan Indonesia. Semester ini jarang ada acara jurusan, jadi para penjual buku-buku lama sudah jarang terlihat juga. Saya langsung menanyakan apakah dia memiliki buku itu, namun ternyata jawabannya masih sama, “wah ngga ada, mbak. Buku itu udah susah sih, soalnya buku lama.” Yeah, saya sudah bisa menebak, sih, sebelumnya. Sudah seminggu (atau dua?) saya berusaha mencari kesana kemari buku itu, namun tidak dapat juga. Bahkan versi Inggris sekalipun. Sebenarnya perpustakaan memiliki versi Indonesia-nya, namun sekarang sedang dipinjam orang lain dan saya tidak bisa memastikan kapan buku itu akan dikembalikan.

Pelajaran kedua, ada hal-hal yang sebenarnya sudah berada di depan mata kita, namun karena beberapa hal, kita tidak bisa begitu saja memiliki hal itu. Jika memang diperlukan, kita memang harus berusaha lebih untuk bisa mendapatkannya.

Jadilah saya langsung menuju ke ruang auditorium, dan ternyata di meja yang terletak di depan pintu masuknya terdapat sebuah kertas bertuliskan “Registration Closed”. Wah, rupanya acaranya sudah dimulai. Saya langsung berjalan ke arah pintu masuk di dalamnya, namun ragu-ragu untuk masuk. Saya lalu mencoba bertanya ke beberapa orang berbaju batik yang berdiri tak jauh dari saya—mereka sepertinya sedang berfoto, namun saya sudah terlanjur mendekat.

“Maaf, mau tanya. Masih bisa masuk ga ya?” tanya saya sambil menunjuk ke arah pintu masuk.

Salah satu dari mereka yang berdiri paling dekat dengan saya menoleh, lalu langsung berujar, “Oh, boleh... boleh.”

Salah satu lainnya langsung menawarkan diri untuk mengantar saya ke dalam. Dia membukakan pintu, lalu berjalan di depan saya dan mencarikan kursi kosong. Wow, sebenarnya saya agak kaget, karena saya datang sangat terlambat (dan tiket yang sudah saya print sebelum datang kesini pun tidak ditanyakan sama sekali!).  

Akhirnya saya duduk di kursi yang ditunjukkan oleh orang tadi setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih (I really meant that, anyway). Ternyata di atas panggung sedang ada teater, namun sepertinya sekarang sesi istirahat karena sebuah band akan menyanyikan beberapa lagu.

Setelah teater itu selesai, para peserta (or should I say pengunjung?) berkumpul di hall auditorium untuk berkonsultasi mengenai beasiswa yang ditawarkan oleh yang punya acara. Saya langsung menuju ke salah satu meja dan ikut menanyakan beberapa hal. Minta brosur, minta file universitas-universitas tujuan beasiswa itu, mengambil sebuah permen jeli, lalu mengucapkan terima kasih sambil tersenyum (again, I really meant that! Thanks!).

Saya lalu berjalan ke arah stand-stand universitas, namun rupanya hampir semua stand masih dikunjungi orang lain. Saya lalu berjalan mengitari ruangan, dan sampailah saya ke meja panjang berisi berbagai macam makanan yang awalnya saya kira dijual. Ternyata gratis! Mereka yang berdiri di balik meja itu berkata pada saya, “ambil aja mbak. Yang banyak.” Saya hanya mengangguk kecil sambil terus mengamati aneka jajanan itu, namun sebenarnya dalam hati saya sedang berteriak-teriak senang. Really? Free snack? Siapa yang mau melewatkan kesempatan emas ini? Haha!

Saya lalu mengambil satu persatu jajanan itu (setiap saya mengambil empat atau lima, saya masukkan ke dalam tas. Lalu lanjut mengambil lagi LOL). Wow, saya langsung senang mengetahui bahwa makanan-makanan itu berasal dari berbagai daerah di Indonesia (dan gratis!). Sebelum pergi, saya kembali mengucapkan terima kasih kepada kedua mbak-mbak penjaga meja itu (I really really did mean it! Haha).

Dengan tas yang hampir penuh (LOL), saya langsung berjalan menuju ke salah satu stand universitas yang kosong. Saya duduk lalu mulai menanyakan tentang course penerjemahan yang saya ingin masuki untuk pendidikan magister nanti (aamiin...). Mbak penjaga stand itu sangat ramah, dan dengan sabar menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. Dia lalu meminta data saya, sambil memberika sebuah tote bag berwarna oranye. Wow! Free gift? Again? I must be blessed today! Haha. Isinya, yang awalnya saya kira notebook, adalah sebuah pulpen, brosur, dan buku tebal berisi profil-profil universitas dari berbagai negara. That is literally what I need! Saya lalu tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Mbak-mbak itu sangat ramah, I swear!

Pelajaran ketiga; you could gain strength from almost anyone, even a stranger. Just try to be kind to every one whom you meet. Trust me, it will make you and other people feel better!

Saya lalu berjalan menuju perpustakaan sambil menyadari bahwa saya lapar. Oke, saya akan beli sesuatu di perpustakaan nanti. Dan akhirnya, setelah beberapa pertimbangan yang singkat namun matang (hehe), saya memilih untuk pergi ke restoran korea dan membeli kimbab.

Setelah selesai, saya langsung menuju ke lantai 2 dan 3 untuk mencari buku referensi untuk jurnal saya sambil sesekali menyelipkan urusan skrispsi di dalamnya. Saya pulang dari perpustakaan saat lagu-lagu daerah sudah diputar sejak 15 menit yang lalu (lagu-lagu daerah itu menandakan bahwa perpustakaan akan segera tutup). Saya lalu berjalan ke arah MUI dan berencana untuk naik ojek saja (tadinya saya berniat untuk naik bikun saja, tapi saya lupa hari ini hari Sabtu dan bikun sudah berhenti beroperasi sejak 2 jam yang lalu). Sebenarnya agak berat naik ojek saat pulang ke kosan, karena ongkos yang diminta pasti sepuluh ribu (padahal tujuh ribu saja cukup!). Saya lalu berencana untuk mencoba menawar ojek hingga 8 ribu saja ketika sampai di kosan.

Ojek yang saya naiki ternyata adalah ojek yang juga mangkal di dekat kosan saya (tadinya saya kira ada 2 bapak ojek yang mukanya mirip, namun ternyata mereka orang yang sama!). Terlebih, bapak itu yang tadi pagi mengantar saya juga ke FIB. Wow, strange coincidence. Saat sampai di depan gerbang kosan, saya menyerahkan uang sepuluh ribu ke arah bapak itu. Saya menunggu namun tidak mengatakan apapun, dan ternyata bapak itu mengeluarkan uangnya dan mengulurkan uang kembalian dua ribu rupiah! Saya sebenarnya agak kaget, karena selama ini belum pernah ada ojek yang mau diberikan kurang dari sepuluh ribu jika mengantarkan saya dari kampus hingga ke depan gerbang kosan.

Pelajaran keempat; di antara sekian banyak orang yang kau anggap sudah tidak baik lagi, pasti akan ada setidaknya satu yang menjadi pengecualian. Really, a kind man does still exist!

Saya lalu menghabiskan sisa hari saya dengan menonton drama dan film. Beberapa hari terakhir saya sering menonton drama jepang tentang kuliner yang membuat saya ingin menjalankan sebuah restoran Itali suatu hari nanti hehe. Film yang saya tonton setelahnya adalah film lama, sebenarnya, karena saya pertama kali menontonnya saat masih di SMA. Judulnya Crazy Little Thing Called Love. Tujuan saya menonton ini sebenarnya untuk membiasakan diri dengan bahasa Thailand, namun sepertinya ide untuk bernostalgia lumayan bagus juga. Jadilah saya tertawa di banyak adegan dan menangis di adegan yang sama banyaknya. Such a classic movie, at least for me! (ps: ternyata Mario Maurer di situ memang benar-benar ganteng! But he’s not actually my type lol).

Pelajaran kelima (yang saya ambil dari film itu) sepertinya harus berasal dari perkataan Nam di awal film, “siapapun kita, pasti punya seseorang yang kita suka secara diam-diam. Saat kita ingat orang itu kita merasa seperti sesak di dada, tetapi kita terus menyukainya.”


Mungkin hal-hal yang seperti itu memang ada, ya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar